Ada Pelajaran yang Tersirat dari Yang Tersurat Pelajaran Makanan secarah Berjamaah

by -57 views

Jejakkasus.com | Hikmah Islami

Beginilah keadaan di Pesantren AL Terminal, walau tidaklah sama de gan pesantren pada umumnya,di sini mulai dari dini di ajari selalu menjaga kebersamaan dan kerukunan dalam hal apapu walaupun dalam hal berbagi dan makan, secara tidak langsung pesantren Ilmu laku di sini secara tidak langsung sudah melaksanakan sebagian dari hukum syari’at sekaligus anjuran Nabi Muchammad SAW
وقال أنس رضى الله عنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يأكل وحده وقال صلى الله عليه وسلم خير الطعام ماكثرت عليه الأيدى

Sahabat Anas Rodhiyallohu ‘Anh berkata bahwasannya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah makan sendirian.
Rosululloh pernah bersabda bahwa ” Sebaik-baik makanan adalah yang dimakan banyak tangan “.

Dari Wahsyi bin Harb Rodhiyallohu Anhu , Bahwasanya para Sahabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi was sallam berkata:
“Wahai Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa sallam, Sesungguhnya kita makan tapi tidak kenyang.”
Beliyau Shollallohu ‘Alaihi wassallam bersabda:
“Mungkin kalian makan dengan tidak berkumpul..?”
Mereka berkata: “Ya.”
Lalu Beliau bersabda:

“فَاجْتَمِعُوْا عَلَى طَعَامِكُمْ، فَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهَ عَلَيْهِ! يُبَارَكْ لَكُمْ فِيْهِ.”

“Berkumpullah kalian ketika makan dan sebutlah Nama Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Maka makanan kalian akan diberkahi.”

Dan di antara yang menunjukkan atas keberkahan dari berkumpul saat makan, adalah apa yang diriwayatkan dalam Shohih al-Bukhori dan Shohih Muslim dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu Anhu, ia berkata:
“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

“طَعَامُ اْلإِثْنَيْنِ كَافِي الثَّلاَثَةَ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةَ كَافِي اْلأَرْبَعَةَ.”

‘Makanan Dua orang cukup untuk Tiga
Dan makanan untuk Tiga orang Mencukupi untuk Empat orang.

Dalam riwayat lain dari Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu Anhu:

“طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي اْلإِثْنَيْنِ، وَالطَّعَامُ اْلإِثْنَيْنِ يَكْفِي اْلأَرْبَعَةَ، وَالطَّعَامُ اْلأَرْبَعَةَ يَكْفِي الثَّمَانِيَةَ.”

“Makanan Satu orang mencukupi Dua orang
Makanan Dua orang mencukupi Empat orang dan makanan Empat orang mencukupi Delapan orang.”

Imam an-Nawawi berkata :
“Dalam Hadits ini terdapat sebuah Anjuran agar saling berbagi dalam makanan, Sesungguhnya walaupun makanan itu sedikit tetapi akan terasa cukup
Dan ada Keberkahan di dalamnya yang diterima oleh seluruh yang hadir.”

Ibnu Hajar berkata, “Dari hadits tersebut kita dapat mengambil Faedah, bahwasanya kecukupan itu hadir dari Keberkahan berkumpul saat makan dan bahwasanya semakin banyak anggota yang berkumpul, Maka akan semakin bertambah berkahnya.”

Dengan demikian beberapa ulama berpendapat, bahwa berkumpul saat makan adalah Mustahab (diSunnahkan) dan janganlah seseorang makan seorang diri.

Membaca Bismillah Saat Makan
Telah disebutkan dalam hadits terdahulu:
” Berkumpullah kalian ketika makan dan sebutlah Nama Alloh padanya
Maka makanan kalian akan diberkahi.”

Oleh sebab itu, Meninggalkan Tasmiyyah (Menyebut Nama Alloh) ketika makan akan menghalangi hadirnya keberkahan padanya.
Sehingga syaiton ikut makan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya Nabi Shollallohu ‘Alaihi wassallam bersabda:

“إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلٌّ الطَّعَامَ، إِلاَّ يُذْكَرَ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ.”

“Sesungguhnya syaiton mendapatkan bagian makanan yang tidak disebutkan Nama Alloh padanya.”

Imam an-Nawawi berkata:
“Arti dari mendapatkan yaitu dapat menikmati makanan tersebut maksudnya bahwa syaiton itu mendapatkan bagian makanan jika seseorang memulainya dengan tanpa dzikir kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala
Adapun bila belum ada seseorang yang memulai makan, maka (syaiton) tidak akan dapat memakannya, jika sekelompok orang makan bersama-sama dan sebagian mereka menyebut Nama Alloh sedangkan sebagian lannya tidak
Maka syaiton pun tidak akan dapat memakannya.”

Dan di antara yang disebutkan oleh an-Nawawi tentang adab-adab Tasmiyyah ini dan hukum-hukumnya, yaitu perkataannya: “Para ulama sepakat bahwa Tasmiyyah saat makan di awalnya adalah mustahab.
Maka apabila ia meninggalkannya saat di awal makan sengaja ataupun tidak sengaja, terpaksa atau tidak mampu karena sebab tertentu, kemudian ia dapat melakukannya pada pertengahan makannya, maka disukai untuk bertasmiyyah dan mengucapkan:

“بِسْمِ اللهِ، أَوَّلُهُ وَآخِرُهُ.”

“Dengan menyebut Nama Alloh di awal dan akhir.”

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits.
Dan mustahab pula mengeraskan tasmiyyah agar ada padanya sebuah peringatan bagi yang lain atasnya dan ia mengikutinya.
Makan Dari Pinggir-Pinggir Piring
Dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu Anhuma berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“الْبَرَكَةُ تَنْزِلُ فِي وَسَطِ الطَّعَامِ، فَكُلُوْا مِنْ حَافِيَتِهِ وَلاَ تَأْكُلُوْا مِنْ وَسَطِهِ!”

‘Keberkahan tersebut akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir-pinggirnya dan jangan dari tengahnya

Dan dari ‘Abdulloh bin Busr Rodhiyallohu Anhu, bahwasanya didatangkan kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa sallam sebuah piring, lalu beliau Shollallohu ‘Alaihi wassallam bersabda:

“كُلُوْا مِنْ جَوَانِبِهَا، وَدَعُوْا ذِرْوَتَهَا! يُبَارَكْ فِيْهَا.”

“Makanlah dari pinggirannya dan tinggalkanlah (terlebih dahulu) bagian tengahnya (niscaya) akan diberkahi padanya.”

Dari dua hadits di atas dan yang semisalnya, terdapat petunjuk Nabi Shollallohu ‘Alaihi wassallam bagi kaum Muslimin ketika makan.
Yaitu bahwa memulainya dari pinggir-pinggir piring agar berkah yang ada di tengah makanan tersebut tetap ada, dan hendaknya tidak memulai makan dari tengah piring hingga selesai makan yang di pinggirnya terlebih dahulu.
Adab ini adalah bersifat umum, baik bagi yang makan sendiri maupun yang makan bersama-sama.

Al- Kiththobi berkata:

“Kemungkinan larangan tesebut (makan dari tengah piring) apabila makan bersama orang lain, karena penampilan makanannya saat itu adalah yang terbaik dan terindah, apabila tujuan utamanya adalah agar ia memuaskan diri sendiri, maka hal itu akan memberi kesan yang kurang baik bagi teman-temannya, oleh karena meninggalkan adab-adab makan dan muamalah yang buruk, namun apabila ia makan sendiri
Maka tidak apa-apa, akan tetapi ada unsur Moral dari anjuran tersebut

Yang jelas adalah, bahwa hal tersebut bersifat umum, karena telah ada larangan dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wasallam dalam dua hadits di atas dengan memakai kata ganti tunggal dan jamak

Kemungkinan maksudnya adalah, menjaga keberkahan makanan tersebut agar tetap selalu ada dalam jangka jangka waktu yang lama, kemudian bukan ini saja tapi dalam hal tersebut ada suatu adab yang baik, khususnya ketika makan bersama.

“فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْرُوْنَ فِيْ أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ.”

“Karena kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.”

Juga hadits-hadits lain yang semisalnya.

Imam an-Nawawi berkata:
Saat menjelaskan maksud dari sabda Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa sallam:

“لاَ تَدْرُوْنَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ.”

“Kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.”

(A.R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *