Apakah Corona akan bernasib seperti Keong Racun?

by -29 views

Jejakkasus.info l Bojonegoro – Covid-19 sudah menyambangi kita selama kurang lebih enam bulan, sampai artikel ini ditulis, jumlah orang yang dilaporkan terinfeksi masih terus meningkat. Entah kapan wabah ini bertemu garis akhir, namun jika ditilik ke belakang, mulai dari awal Covid-19 datang hingga saat ini, diskusi di ruang publik masih didominasi tentang masker, cuci tangan, jaga jarak dan sejenisnya. Di luar virusnya, perdebatan masih berkutat pada pemulihan ekonomi dan sentimen-sentimen politik. Tetapi sangat jarang yang meneropongnya dengan sudut sedikit lebih lebar, Covid-19 ini sebenarnya kita pandang seperti apa? Apakah serupa ikan Louhan, Batu Akik, Norman Kamaru dan sebangsanya?

Cara pandang masyarakat kita secara umum mengenai Covid-19 ini, apakah seperti melihat trending topic di media sosial? Muncul dan menjadi pusat perhatian beberapa saat saja tanpa punya makna yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari? Menanggapi wabah seperti memandang viralnya Ikan Louhan? Pupuler dan menghebohkan banyak orang hanya dalam kurun waktu tertentu saja. Seperti goyang Norman Kamaru yang membuat semua orang ingin mengintip videonya saat itu dan kemudian hilang tanpa pernah diingat, bahkan hampir tidak lagi yang peduli bagaimana sekarang Norman Kamaru.

Awal pandemi datang, semuanya terpengaruh. Hampir semua hal terpukul akibat wabah yang datangnya dari Wuhan, China, tersebut. Tidah hanya sektor kesehatan, Covid-19 menghantam perekonomian hingga pendidikan. Secara psikologis, wabah juga membuat banyak orang stres. Ada ketakuan terhadap kematian karena virus dan sekaligus terteror oleh kemerosotan keadaan ekonominya.

Taylor, S dalam penelitiannya yang berjudul The Psychology of Pandemics: Preparing for the Next Global Outbreak of Infectious Disease, menyebutkan bahwa ketidakpastian dalam mengetahui kapan wabah akan berakhir membuat banyak golongan masyarakat terutama golongan menengah ke bawah bingung memikirkan nasib mereka. Kehidupan tanpa adanya mata pencaharian membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi tersebut berpeluang menjadi faktor yang membuat stres bagi sebagian banyak orang, dan dampaknya tersebut bisa sama parahnya dibandingkan dampak yang ditimbulkan karena terinfeksi oleh virus.

Inilah yang kira-kira membuat sebagian besar masyarakat pada awal muncul wabah jadi panik dan sekaligus juga mengubah perilaku kehidupan sehari-harinya. Mulai dari pakai masker, cuci tangan hingga ke persoalan penghematan pengeluaran.

Perubahan tidak hanya pada level individu, tetapi juga wilayah komunal. Sekolah dan kampus melakukan pengajaran melalui daring, kantor-kantor juga banyak yang meminta karyawannya bekerja di rumah, seminar dan bahkan pengajian tidak lagi dilakukan secara pertemuan fisik, tetapi melalui perangkat-perangkat internet.
Hal tersebut berlangsung kira-kira dua hingga tiga bulan pertama sejak Wabah itu dilaporkan masuk ke Indonesia. Akan tetapi dalam satu dua bulan terakhir, sepertinya keadaan kembali ke semula, seperti tidak ada wabah. Muncul istilah “New Normal” dan sejenisnya, namun pada kenyataanya bukan menuju sebuah kebiasaan baru, melaikan kembali ke keadaan normal, seperti sebelum ada pandemi.

Perlu banyak pisau analisis untuk mempelajari fenomena ini. Salah satu hal yang mempengaruhi ini semua adalah cara pandang kita semua yang kurang presisi terhadap sebuah peristiwa. Pandemi adalah sebuah perang panjang, jika perlombaan lari, pandemi adalah marathon. Tentu berbeda cara dan strategi berlari untuk jarak 100 meter dengan marathon.

Mari kita nilai sendiri, apakah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang pernah dijalankan itu sratrategi jangka panjang? Apakah model sekolah di rumah yang dipraktikkan oleh kebanyakan sekolah belakangan ini adalah sebuah taktik untuk lomba marathon?

Sebagai contoh, sekolah selama ini hanya mengubah metode penyampaian materi pelajaran, yang biasanya disampaikan secara tatap muka, kini diganti dengan pertemuan daring. Hampir tidak ada yang mengkalibrasi ulang kurikulum berdasarkan kecakapan orang tua dalam menemani anak belajar, kondisi ekonomi hingga faktor psikologis anak yang terkurung selama berminggu-minggu di rumah.

Banyak sekolah yang masih bingung bagaimana menilai capaian anak-anak dalam pelajaran. Siswa ditakar seperti keadaan normal, yakni dengan menjawab lembar-lembar kerja siswa. Proses belajar berbeda, namun cara mengukur hasilnya sama dengan keadaan normal. Maka tidak perlu terkejut ketika banyak orang tua yang akhirnya lebih banyak berperan mengerjakan tugas sekolah anaknya, sebab mereka pun tak siap jika nilai anakknya anjlok.

Kita benar-benar abai terhadap pertanyaan, “Ada Apa Setelah Corona?”. Sebuah peristiwa yang mengguncangkan dunia, namun tidak mengubah apapun secara signifikan terhadap peradaban manusia? Bom atom di Jepang pada Perang Dunia II menjadi momentum kebangkitan negeri sakura tersebut. Bahkan letusan Gunung Tambora pada 1815 konon mempengaruhi gerakan anti-perbudakan di Amerika dan banyak sederet peritiwa yang kemudian mengubah lanskap kehidupan sosial dan bahkan peradaban.

Covid-19 awalnya diprediksi akan mempercepat proses deglobalisasi. Ketakutan-ketakuan membuat banyak negara berusaha mengurangi ketergantungan terhadap negara lain. Presiden Perancis, Emmanuel Macron mengatakan bahwa Covid-19 menimbulkan ketakutan di banyak negara sehingga mulai lebih fokus membenahi ekonomi domestik.

Perdana Menteri Australia di hadapan Palemen mengatakan jika negaranya perlu hati terhadap kedaulan ekonomi domestiknya. Jepang pun mulai mencari formula untuk memutuskan ketergantungan pasokan barang dari China dan berupaya meningkatkan produksi dalam negeri. Bahkan awal-awal pandemi ini diumumkan, beberapa negara melarang eksport guna memberikan jaminan ketersediaan barang di dalam negerinya.

Namun sekarang bagaimana? Sudah sampai dimana kita memanfaatkan Corona ini sebagai titik momentum untuk membenahi ekonomi domestik? Berapa peningkatan produksi dalam negeri dan berapa berkurangnya ketergantungan kita terhadap barang impor? Apakah wabah ini sudah memberikan dampak terhadap paradigma berpikir masyarakat kita mengenai pendidikan anak? Bahwa stakeholder utama pendidikan anak adalah keluarga dan lingkungan rumahnya sendiri?

Apakah Corona akan bernasib seperti Keong Racun milik Sinta Jojo? Meledak, popular dan menghebohkan banyak orang. Namun dalam hitungan bulan semua lenyap, tanpa pernah tahu kemana dan tanpa pernah punya makna apa-apa dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *