Diduga Lebih dari 5 Orang Anak di Bawah Umur Mendapat Kekerasan dari RT Penegaran Desa Megu Gede Cirebon

oleh -275 views

Cirebon I  Jejakkasus.info – Diduga kasus kekerasan anak di bawah umur yang terjadi di Desa Megu Gede, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat,  yang melibatkan seorang Ketua Rukun Tetangga (RT) berinisial SM.

Berawal adanya kerumunan anak di bawah umur yang sedang berkumpul di sekitar perbatasan.

Diduga ingin bertawuran, oleh pihak RT 005 RW 001, Blok Babakan, berkoordinasi dengan RT 007 RW 001 Blok Penegaran, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti, tawuran antar warga setempat.

Namun, sangat disayangkan, hasil koordinasi RT Babakan terhadap RT Penegaran direspon spontan, dengan cara kekerasan oleh Ketus RT Penegaran yakni,  menampar anak-anak di bawah umur dengan sandal.

Mirisnya sikap dan tindakan Ketua RT Penegaran, terkesan arogan terhadap anak-anak di bawah umur.

Ironisnya anak di bawah umur yang ditampar oleh Ketua RT Penegaran, lebih dari 5 orang anak-anak di bawah umur.

Mengetahui kejadian tersebut, salah satu Ibu korban yang berinisial SK, mendengar kabar bahwa anaknya (DN) ditampar dengan sandal, sontak Ibu Korban tidak menerima perlakuan Ketua RT Penegaran, hingga Ibu Korban, sempat mendatangi Polsek Weru, agar mendapat petunjuk.

Hasil dari mendatangi Polsek Weru, Ibu korban dimediasi oleh Mandor Desa Megu Gede Ipin.

Upaya tersebut dianggap cukup selesai oleh Ketua RT Penegaran dan Mandor Desa Megu Gede, pasalnya kedua belah pihak membuat kesepakatan.

Namun, ibu korban merasa kurang puas dengan janji yang diucapkan Ketua RT Penegaran, yang ingin mendatangi orangtua korban di rumah kediaman seluruh korban,  untuk meminta maaf, namun tidak direalisasikan oleh pelaku.

Sehingga ibu korban kecewa atas sikap tersebut, dan permasalahan tersebut, akan dibawa ke jalur hukum.

Saat dikonfirmasi, Selasa (4/5/20#1) Ija salah satu ibu kandung korban memaparkan, bahwa ia kecewa atas sikap, tindakan, dan lisan, dari pelaku yang terkesan, menggampangkan permasalahan itu.

“Saya tidak akan mempermasalahkan masalah ini, jika ucapannya direalisasikan. Namun, apa boleh buat, karena pelaku tidak bisa menunjukkan realisasi dari ucapan niat tersebut, maka ini akan menjadi pelajaran,  agar bisa mencontohkan yang baik terhadap warganya,” ujar Ija.

Ija menyatakan, orangtua mana yang menerima anaknya ditampar pakai sandal oleh orang.”Itu kepala anak tuh, difitrahin,  bukan digampar pakai sandal, coba keadaannya dibalik, nerimia ngak anaknya digituin,” tanya ija.

Di tempat terpisah, salah satu paman korban yang enggan disebutkan namanya menyayangkan kejadian itu.

Padahal, ibu korban sudah berbijak hati, agar sesegara mungkin pelaku meralisasikan apa yang diucapakan pelaku, lebih-lebih ucapan pelaku disaksikan orang-orang banyak.

“Saya menyayangkan hal ini, padahal ibu korban, tidak menuntut banyak, namun pelaku terkesan memggampangkan, sehingga permasalahn ini mencuat kembali,” terang paman korban.

“Jika berlanjut di jalur hukum, besar harapan saya, agar pihak Aparat Penegak Hukum (APH) dan Komisi Perlindungan Anak, benar-benar menindaklanjuti dengan serius atas kekerasan tersebut, hal ini tidak bisa dibiarkan, karena menyangkut anak-anak di bawah umur, banyak menjadi korban kekerasan. Dan saya sendiripun akan mengambil sikap untuk memantau, memonitoring, permasalahan ini, baik di APH maupun di Komnas Perlindungan Anak,” imbuh paman korban. (Sendika/Erdan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *