Gelar Budaya Tradisi Adat Guar Bumi Desa Ligung Lor

oleh -14 views

Jejakkasus.Info l Majalengka – Sudah menjadi tradisi masyarakat yang tinggal di pedesaan dalam menyambut datangnya musim tanam “Rendengan” atau menjelang musim hujan tiba, mereka menggelar berbagai macam tradisi seperti Guar Bumi.

Adat tradisi ini sudah sejak turun temurun dilestarikan oleh masyarakat khususnya yang tinggal di pedesaan, turut Hadir dalam Acara Syukuran tersebut turut dihadiri dari perwakilan Unsur Muspika setempat baik dari Kecamatan, koramil, Polsek, Satpol PP, Dinas Pertanian dan Tokoh” Agama, Rabu (13/10/2021). Kegiatan Mulai Pagi Pukul 6.30 WIB.

Pelaksanaan Guar Bumi tahun ini digelar secara sederhana, dengan menerapkan protokol kesehatan, karena berada di tengah pandemi Covid-19. Gugus tugas Covid-19 pun mengawasi gelaran tersebut.

Tradisi adat ini tidak bisa dipisahkan dengan Masyarakat sudah menyatu menjadi bagian masyarakat Ligung lor di samping jg ada tradisi adat Guar Bumi juga ada tradisi yg di sebut Munjungan.

Bedanya hanya terletak di hari dan tempat pelaksanaanya saja. Dimana munjungan biasa di gelar di Tempat Pemakaman leluhur (Kebuyutan). Biasanya tradisi adat guar bumi ini diadakan di balai Desa dan sebagai ciri khas budaya adat ini dengan adanya hiburan Wayang Kulit disamping Doa bersama.

Dengan adanya PPKM maka guar bumi  tempat pelaksanaanya diselengarakan di lahan pesawahan ataupun di halaman kantor desa.dengan sangat sederhana ya itu mengadakan Doa Bersama,semoga dengan terlaksananya upacara adat guar bumi ini para petani merasakan hasil panen yang berlimpah.

Seperti yang laknsanakan di Desa Ligung Lor Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat,  Ratusan warga sejak pagi datang berbondong bondong, mereka masing-masing membawa nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya.

Tujuan mereka berkumpul adalah untuk menggelar doa bersama, agar didalam menyambut musim tanam hujan diberikan keberkahan.

Kepala Desa Ligung Kecamatan Ligung “Rasmin” mengatakan, tradisi adat Guar Bumi ini adalah sebuah adat tradisi warisan dari para leluhur.

Tradisi ini harus terus dilestarikan dan yang terpenting dalam pelaksanaanya tidak bertentangan serta tidak melanggar norma-norma yang ada di masyarakat.

“Menurut saya adat dan tradisi ini harus terus dilestarikan, bahkan bila perlu lebih dikemas dan lebih meriah lagi. Artinya, dalam menggelar munjungan ini tidak saja diisi dengan doa bersama, tapi juga ditambah dengan kegiatan yang lainnya. Seperti, tablig akbar atau kegiatan sosial lainnya,” katanya.

“Rasmin menambahkan, kegiatan Guar Bumi ini sudah biasa dilakukan warga Desa Ligung, bahkan sudah menjadi agenda rutin tahunan.

Disamping melakukan doa bersama, tradisi ini juga untuk menjalin silaturahmi antara warga. Sehingga kebersamaan masyarakat disini akan semakin terjalin dengan baik.

“Intinya munjungan ini adalah ritual warga menjelang musim rendengan atau musim menjelang musim hujan. Kita semua berharap di masa tanamnya nanti para petani mendapatkan penghasilan yang berlimpah dan terhindar dari hama maupun penyakit,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut “Rasmin” juga mewanti wanti agar masyarakat harus tetap waspada di masa pandemi Covid-19 saat ini.

“Walau situasi sedang darurat karena adanya penyebaran wabah Covid-19 namun acara Guar Bumi yang sudah turun temurun harus dilestarikan dan dilaksanakan sesuai protokol kesehatan,” ucapnya.(Tim JK Info Jabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.