Penyusun : Supriyanto (ilyas) Ketua Umum Lembaga Suwdaya Masyarakat (LSM) Generasi Muda Indonesia Cerdas Anti Korupsi (GMICAK)
Ada 3 hal laki – laki tersungkur dalam kehinaan :
Rasulullah bersabda, ”Zuhudlah pada dunia, Allah pasti akan mencintaimu dan zuhudlah (tidak berkeinginan) pada apa yang ada di tangan manusia, pasti manusia mencintaimu. (HR. Ibnu Majah).
Semakin banyak manusia yang mencinta dunia, gambaran kiamat semakin dekat. Dan manusia semakin jauh dari Allah. Mereka berlomba membidik dunia namun semakin menjaga jarak dari Allah.
Rasulullah saw bersabda, ”Hari kiamat semakin dekat. Dan tidaklah manusia kecuali semakin tamak pada dunia dan kepada Allah semakin jauh.” (HR. Hakim).
Dunia itu indah dan sedap namun beracun sehingga banyak manusia yang tertipu oleh cita rasanya.
Kekuasan juga sering kali menjadikan manusia terpuruk. Tatkala kekuasan dan tahta itu dianggap sebagai kesempatan untuk berbangga diri, untuk memperkaya diri, dan dinikmati.
Padahal kekuasan hendaknya diperlakukan sebagai amanah yang tidak ada khianat di dalamnya.
Rasulullah saw pernah memperingatkan sahabat utama Abu Dzar dengan berkata, ”Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah dan sesungguhnya dia (kekuasaan itu) adalah amanah dan di hari kiamat akan menjadi siksa dan sesal kecuali yang mengambil sesuai haknya dan melaksanakan apa seharusnya dilaksanakan. (HR. Muslim).
Kesungguhan dalam menjalankan kekuasan inilah yang oleh Rasulullah dituntut dari umatnya yang diberi amanah kekuasaan.
Sebagaimana sabdanya: ”Tidaklah ada seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin namun kemudian tidak bersungguh-sungguh dan tidak memberikan nasehat kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (rakyatnya) (HR. Muslim).
Semoga kita terhindar dari godaan genit tahta, harta dan wanita di sebuah zaman yang mulai menggila
“Harta, tahta, wanita” adalah ungkapan yang merujuk pada tiga hal yang sering kali menjadi tujuan utama dalam kehidupan, yaitu kekayaan (harta), kekuasaan atau kedudukan tinggi (tahta), dan pasangan (wanita).
Ungkapan ini sering diartikan sebagai pemuasan kesenangan dan pencapaian superioritas individu, meskipun bisa memiliki makna yang lebih dalam, seperti amanah atau ujian dalam pandangan religius.
Penjelasan dari setiap komponen bahwa :
Harta: Merujuk pada kekayaan materi, seperti uang, aset, dan benda berharga lainnya. Dalam konteks Islam, harta adalah karunia dari Allah yang harus diperoleh dan dikelola secara halal, bukan tujuan akhir, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Tahta: Merujuk pada kekuasaan, kedudukan tinggi, atau posisi prestise dalam masyarakat atau pekerjaan. Kata yang baku adalah takhta, bukan tahta.
Dalam pandangan religius, memperebutkan tahta dapat menjadi fitnah yang berbahaya, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk kebaikan jika digunakan dengan benar.
Wanita: Merujuk pada pasangan atau romantisme. Dalam beberapa konteks, kata ini dapat terkesan merendahkan wanita sebagai objek, tetapi sering kali merujuk pada pencarian pasangan atau dorongan reproduktif. Dalam pandangan religius, godaan wanita sering disebut sebagai fitnah yang sangat besar bagi laki-laki.
Dalam ajaraan agama Islam, “harta” berarti karunia Allah yang harus diperoleh dan digunakan secara halal, sedangkan “tahta” merujuk pada jabatan dan kekuasaan yang merupakan ujian. Kedua hal ini bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah atau malah menjauhkan diri jika tidak dikelola dengan baik.
Harta Karunia dan Titipan: Harta adalah titipan dari Allah yang harus dikelola sesuai ajaran Islam. Seorang Muslim wajib mencari harta dengan cara yang halal dan tidak boleh dengan cara yang batil (melanggar hukum).
Harta memiliki fungsi sosial. Selain untuk kebutuhan pribadi, harta juga harus digunakan untuk membantu sesama melalui sedekah dan zakat.
Dalam setiap harta, ada hak orang lain selain zakat yang wajib dikeluarkan.
Harta adalah salah satu ujian terbesar. Jika dikelola dengan bijaksana, harta bisa menjadi sarana kebaikan; namun jika digunakan untuk kesenangan pribadi dan tidak peduli pada sesama, harta bisa menjadi penyebab kesesatan.
Islam menganjurkan sikap zuhud (tidak silau terhadap harta) dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk beribadah.
Jabatan dan Kekuasaan: Tahta merujuk pada kedudukan, jabatan, atau kekuasaan.
Ujian dan Amanah: Kekuasaan adalah ujian berat bagi pemegangnya. Tahta dapat mendorong kesombongan, keangkuhan, dan kelalaian.
Tanggung Jawab: Seorang yang memegang tahta harus menjalankan amanah dengan adil, senantiasa bertakwa, dan bersyukur kepada Allah atas kepercayaan yang diberikan.
Potensi Kebaikan atau Kehancuran: Tahta dapat menjadi sarana untuk menolong dan memberikan kebaikan bagi umat, atau justru menjadi sumber kehancuran jika tidak dijalankan dengan benar.
Singkatnya, dalam Islam, harta dan tahta bukanlah tujuan, melainkan dua hal yang harus dikelola dengan tanggung jawab, sesuai syariat, dan dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jika kita tidak berhati-hati dalam 3 hal tersebut, Kita akan tergiur kemewahan Dunia, tak kenal halal dan haram, Korupsipun dilakukan, meski Korupsi membuat masyarakat kecil Miskin, demi Harta, Tahta, dan Wanita apapun dihalalkan.
Mereka akan jatuh kedalam kehinaan di hadapan allah SWT, Yakni demi 3 hal di atas, apapaun akan dilakukan diluar jalan yang diridhoi Allah. (***)
