Imbas Proyek BBWS Sawah Petani Mengering

Jombang l Jejakkasus.info – Kondisi sawah di Dusun Budug, Desa Budugsidorejo, Kecamatan Sumobito yang mengering karena air saluran sekunder tak mengalir.

Petani Dusun Budug, Desa Budugsidorejo, Kecamatan Sumobito berharap pemerintah mencarikan solusi untuk dampak pengerjaan proyek Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Pasalnya, akibat mandeknya pasokan air dari saluran sekunder, sawah mereka mengering dan tak bisa menanam padi.

”Kita mendukung proyek (BBWS Brantas, Red) itu, tapi nasib petani di sekitar juga tolong diperhatikan,” terang Hadi Kuswoyo

Dikatakan, meski sekarang sudah musim penghujan, namun tidak mencukupi untuk kebutuhan pengairan sawah. Selama ini petani sangat menggantungkan pasokan air dari saluran sekunder di Dam Yani. Karena pasokan air terhenti, sehingga puluhan hektare lahan sawah di Dusun Budug hingga kini belum bisa memulai masa tanam. ”Kita akan kirim surat lagi ke dinas, kita minta ada solusi konkret,” bebernya.

Terpisah, Heri Sudiatmiko juga berharap ada solusi konkret dari pihak terkait. Pasalnya, selama ini kebutuhan ekonomi keluarganya sangat menggantungkan hasil bercocok tanam di sawah. ”Kalau tak bisa nggarap sawah, terus mau diberi makan apa keluarga saya,” bebernya.

Dia menambahkan, sebelumnya petani di wilayahnya sudah sempat menggelar pertemuan. Hasilnya disepakati akan mulai tabur benih antara 5-10 November. Namun, karena pasokan air dari saluran sekunder macet, sehingga sampai sekarang petani belum bisa menggarap sawah. ”Harusnya sekarang sudah mulai bajak sawah, tapi karena kekurangan air sekarang belum bisa dimulai,” kata Heri

Sebenarnya, ada dua petani yang sempat membajak sawah saat pasokan air dari saluran sekundaer masih lancar. ”Kemarin itu sempat ada dua yang sudah dibajak, begitu sudah tidak lagi mengalir, sekarang mandek tidak bisa dilanjutkan,” ujar Heri.

Dikatakan, jika sampai jadwal tanam terus mundur, tentunya juga sangat berisiko. ”Kalau sudah begini khawatir tanam mundur lagi, nanti ujung-ujungnya gagal panen,” lanjut dia.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M Rony mengakui, saat ini sebagian wilayah memasuki musim tanam padi. Sehingga petani sudah kembali mengolah sawahnya. ”Curah hujan sudah cukup, dan kelihatannya beberapa tempat sudah mulai turun tanam,” kata Rony.

Untuk saat ini pihaknya belum menerima keluhan terkait kebutuhan air di wilayah setempat. Namun, akan menindaklanjuti dengan melakukan koordinasi OPD terkait. ”Secara teknis dipertimbangkan, apakah hanya satu hektare yang siap atau lebih dari itu kita koordinasikan dulu. Karena dari sisi proyek sendiri mestinya dikejar waktu,” imbuh dia.

Sebab terkait kewenangan pengairan, lanjut Rony, bukan kewenangan pihaknya. ”Yang jelas kita berharap dengan curah hujan sudah cukup, di satu sisi pekerjaan proyek juga bisa cepat selesai,” kata Rony.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek normalisasi sungai Ngotokringkanal dan saluran Mrican Kanan milik BBWS Brantas dikeluhkan petani di Dusun Budug, Desa Budugsidorejo, Kecamatan Sumobito. Sebab, pengerjaan proyek berdampak pada macetnya suplai air dari saluran sekunder yang selama ini diandalkan petani untuk mengairi sawah.

Tak tanggung-tanggung, di wilayan Dusun Budug saja, ada sekitar 40 hektare sawah terpaksa dibiarkan nganggur lantaran tak dapat pasokan air. Belum lagi areal sawah di dusun-dusun lain yang selama ini juga mengandalkan pasokan air dari saluran sekunder. (Aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *