Jolotundo Marah (20)

Mojokerto l Jejakkasus.info – Masih ingat dengan tragedi 24 Nopember 2021??? di petirtaan jotundho Trawas Mojokerto, sebagian banyak orang, jolotundho adalah sebagai tempat yang di sakralkan karena setiap waktu banyak orang yang datang untuk melakukan ritual.

Saat itu jolotundho menelan empat korban meninggal dunia akibat pohon besar yang kuat dan kokoh roboh menimpa beberapa orang yg sedang berlibur..banyak opini berkembang dimasyarakat bahwa ghoib jolotundho sedang marah karena tempatnya diusik oleh ulah manusia yang kurang ber tanggung jawab dan tidak ber etika.

Salah satu lembaga sosial dan budaya SINGALIAR MAJAPAHIT yang peduli terhadap kelestarian alam dan budaya majapahit.melakukan investigasi di lokasi kejadian jolotundho.tak tanggung tanggung inevesatigasi ini dipim pin langsung oleh ketua dan pengurusnya ” sepertinya benar adanya bahwa jolotundho sekarang berubah fungsi,pastas saja pasukan eyang Airlangga dan Narutama marah. pungkas nya kepada awak media sambil meneruskan investigasinya ke lokasi kejadian.

Ditemui secara terpisah pemangku adat jotundho yang juga sebagai sekretaris dewan lembaga pelesatari adat Majapahit Ki mukadi mengajarkan ” saya juga sangat prihatin melihat perkembangan jolotundho sekarang.ini tidak boleh dibiarkan.karena kalo dibiarkan terus maka akan semakin banyak korban.kita harus duduk bersama mengembalikan Marwah tujuan eyang empu sendhok membuat petirtaan ini, kasihan masyarakat yang ada di bawah pasti merasakan dampak negatifnya.

Dari pantauan media jejak kasus yang menelusuri situasi dan kondisi di sekitar jolotundo beberapa waktu yang lalu memang tampak jolotundo berubah fungsi, disalah satu sisi sebagai tempat ritual dan disisi luar seakan sebagai tempat pariwisata bagi kawula muda yang memadu kasih.

Hal ini tampak berdirinya warung warung di sekitar jolotundo yang amat pesat dan anehnya hampir pemilik warung bukan dari masyarakat sekitar jolotundo.

Salah satu pemilik warung yang tidak mau disebutkan namanya saat ditemui diwarungnya mengatakan “Saya dari Lamongan mas dan saya disini membangun warung dilahan yang saya sewa dari seseorang yang jaga disini”ujarnya sambil menjauhi awak media mewanti wanti agar namanya tidak tulis. (RJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *