Kesiapan Pangan Negara Dalam Menghadapi Wabah covid-19

by -20 views

Oleh : “BIMA HAYYU AMRULLAH” mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

Jejakkasus.info | Ketersedian bahan pokok, termasuk distribusi logistiknya menjadi perhatian masyarkat di tengah meluasnya virus corona atau Covid-19 di Indonesia. Hal ini harus segera dipastikan pemerintah.
“Mencermati situasi yang mengkhawatirkan ini, saya hanya terpikir yang terpenting adalah pemerintah perlu memperhatikan daya dukung dan kesiapan sektor pangan. Ketersediaan bahan pokok. Nah, apakah benar stok pangan kita cukup mengatasi kemungkinan yang terburuk. Tentu bicara ketersediaan, harus semua daerah. Distribusi logistiknya bagaimana. Tidak cukup hanya bilang aman. Ada garansi benar-benar aman?”

jika sektor pangan lumpuh di saat masyarakat menghadapi krisis kesehatan, maka situasi bisa memburuk dengan cepat. Pemerintah, lanjut dia, harus benar-benar menyiapkan antisipasi kesiapan stok bahan pangan, termasuk mitigasinya jika produksi pangan ambruk.

“Saat ini saja masyarakat sudah merasakan dampaknya. Beberapa komoditas sudah mulai langka di pasaran, harganya juga terus melambung naik. Harga impor sembako terpengaruh besar karena hampir semua kebutuhan bahan pokok kita impor, terutama dari China,”.

Dalamn situasi krisis seperti sekarang, sudah seharusnya negara mengandalkan sumber daya nasional untuk bertahan. Negara harus membeli hasil panen petani terlebih dahulu sebelum memutuskan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Hal ini bukan saja untuk menjamin ketersediaan pangan, tapi juga menguatkan solidaritas dan spirit gotong royong.

Dampak pandemi Covid-19 ini telah memperlambat ekonomi dunia secara masif dan signifikan, termasuk terhadap perekonomian Indonesia. Untuk itu, pemerintah telah dan terus melakukan langkah-langkah cepat untuk mengantisipasi beberapa dampak ini.
“Pemerintah memastikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok yang cukup dan memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Minggu, 15 Maret 2020.
Joko Widodo juga mengatakan pemerintah telah memberikan insentif kebijakan ekonomi, sebagaimana telah diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, untuk menjaga agar kegiatan dunia usaha tetap berjalan seperti biasa.

Ketersediaan pangan menjadi program yang sangat penting dalam menghadapi serangan Covid-19 ini. Pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan pangan untuk menjamin ketersediaan pasokan pangan utama dan strategis bagi penduduk dengan harga terjangkau.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan, bahan pangan utama dan strategis yang dimaksud adalah beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi/kerbau, daging ayam, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng.
Sebagian besar, pemenuhan bahan pangan tersebut dipasok dari produksi dalam negeri. Hanya saja, komoditas bawang putih, daging sapi/kerbau, dan gula pasir yang pemenuhannya sebagian masih melalui impor. “Bagi beberapa komoditas yang pemenuhannya masih melalui impor terdampak Covid-19 secara global, langkah antisipasi yang dilakukan adalah dengan mempercepat proses penerbitan rekomendasi impor,” ujarnya.

Namun Susiwijono menyakinkan dalam rentang waktu enam bulan ke depan (Maret hingga Agustus 2020), termasuk menghadapi Ramadan dan Idul Fitri, proyeksi ketersediaan 11 komoditas strategis dipastikan aman.

Sampai dengan 10 Maret 2020, Kementerian Pertanian telah menerbitkan 37 rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) untuk menjaga pasokan pangan. Salah satunya adalah rekomendasi impor bawang putih sebanyak 196,5 ribu ton, di mana sebanyak 34,8 ribu ton sudah terbit izin impornya dari Kementerian Perdagangan.

Hal tersebut masuk dalam stimulus pangan untuk antisipasi dampak virus corona mutan pada perekonomian. Pemenuhan bahan pangan sebagian besar dipasok dari produksi dalam negeri. Hanya saja, komoditas bawang putih, daging sapi/kerbau, dan gula pasir yang pemenuhannya sebagian masih melalui impor. Dan pemerintah juga terus mencarikan negara produsen bawang putih selain Tiongkok, di antaranya, adalah India, Mesir, Bangladesh, dan beberapa negara lain :
“Bagi beberapa komoditas yang pemenuhannya masih melalui impor terdampak Covid-19 secara global, langkah antisipasi yang dilakukan adalah dengan mempercepat proses penerbitan rekomendasi impor,” ujarnya.
Akhir pekan lalu, 14 Maret 2020, pemerintah telah membuat kebijakan pangan terkait penanganan dampak Covid-19, seperti dirangkum dari paket Stimulus Ekonomi Kedua untuk Menangani Dampak Covid-19. Ada tujuh poin dalam kebijakan tersebut, yakni:
1. Pemerintah tetap menjamin ketersediaan pasokan pangan utama dan strategis bagi penduduk dengan harga terjangkau.
2. Pangan utama dan strategis yang dimaksud adalah beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi atau kerbau, daging ayam, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng.
3. Dalam rentang waktu enam bulan ke depan (Maret sampai dengan Agustus 2020), termasuk menghadapi Ramadan dan Idul Fitri, proyeksi ketersediaan 11 komoditas strategis dipastikan aman.
4. Sebagian besar pemenuhan pangan tersebut dipasok dari produksi dalam negeri, hanya komoditas bawang putih, daging sapi atau kerbau, dan gula pasir yang pemenuhannya sebagian masih melalui impor.
5. Bagi beberapa komoditas yang pemenuhannya masih melalui impor terdampak Covid-19 secara global, langkah antisipasi yang dilakukan adalah dengan mempercepat proses penerbitan rekomendasi impor.
6. Sampai dengan 10 Maret 2020, Kementerian Pertanian telah menerbitkan 37 rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH), salah satunya adalah rekomendasi impor bawang putih sebanyak 196,5 ribu ton, di mana sebanyak 34,8 ribu ton sudah terbit izin impornya dari Kementerian Perdagangan.
7. Pemerintah juga terus mencarikan negara produsen bawang putih selain Tiongkok, di antaranya adalah India, Mesir, dan Bangladesh.

Sementara itu pemerintah sudah secara aktif melakukan monitoring harga dan pasokan pangan secara rutin setiap minggu. Langkah ini dilakukan dalam rangka antisipasi ketersediaan pasokan pangan pokok untuk menghadapi Bencana Nasional Covid-19.

“Kita akan monitor terus. Pangan tidak boleh kurang, itu arahan Presiden,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam rakortas tingkat menteri pembahasan tentang ketersediaan pasokan bahan pangan pokok Maret hingga Agustus 2020, di Jakarta (16/3/2020).

Dalam rakortas melalui teleconference akhir pekan lalu itu dibahas posisi stok, pasokan dan harga 11 komoditas bahan pangan pokok. Perkiraan ketersediaan dan kebutuhan beberapa bahan pangan pokok utama, terutama komoditas beras, jagung, daging sapi/kerbau, gula, dan bawang putih dijamin cukup untuk memenuhi kebutuhan.
“Stok beras, jagung, daging sapi/kerbau, gula dan bawang putih dijamin cukup untuk memenuhi kebutuhan,” tutur Menko Airlangga sesaat sebelum menutup jalannya rapat.

Terdapat sebesar 3,5 juta ton stok beras kini tersebar di Perum BULOG, Penggilingan dan Pedagang. Diperkirakan panen raya terjadi pada Maret, April, dan Mei 2020 sehingga pada akhir Mei 2020 akan terdapat stok beras sebesar 7,7 juta ton. Sedangkan stok jagung pada akhir Februari 2020 sebesar 661.000 ton dan panen bulan Maret diperkirakan mencapai 6,2 juta ton.

Stabilisasi harga gula akan dilaksanakan dengan mendistribusikan gula sejumlah 20.000 ton oleh Perum BULOG dengan harga sebesar Rp10.500/kg. “Selain itu, akan segera direalisasikan penyediaan gula konsumsi sejumlah 150.000 ton oleh BUMN yang ditugaskan,” ujar Airlangga.

Terkait ketersediaan bawang putih, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto melaporkan pihaknya telah menerbitkan tambahan Persetujuan Impor (PI) sebesar 70.000 ton.

Sedangkan untuk stabilisasi harga daging, ia juga akan segera merealisasikan rencana impor daging kerbau sebesar 170.000 ton dan daging sapi sejumlah 120.000 ton.
Hasil pada pembahasan rakortas pangan pada hari ini akan segera ditindaklanjuti oleh kementerian/lembaga terkait dan akan dilakukan monitoring perkembangannya pada rakortas berikutnya yang dijadwalkan pada akhir minggu ini.

Agus Suparmanto akhir pekan lalu memastikan pasokan bahan pokok bakal terjamin sampai Agustus 2020. Agus Suparmanto menyatakan saat ini, stok beras masih sebanyak 3,5 juta ton dan akan cukup sampai Agustus 2020. Ketersediaan beras diyakini bakal bertambah karena akan diperkirakan ada tambahan produksi sebanyak 22 juta ton.

Sementara itu, jagung diperkirakan akan ada tambahan 13 juta ton ke pasar. Bawang putih juga akan mendapat penambahan pasokan sebanyak 300 ton, yang mulai masuk dalam beberapa hari ke depan.
“Cabai merah yang diketahui akan mulai panen akhir Maret sampai Mei. Kemudian, berkaitan dengan gula, saat ini stok di distributor sekitar 159.00 ton. Memang kenaikan harga ini sedang kami turunkan [dengan] menurunkan satgas ke gudang-gudang,” paparnya.

Untuk daging, lanjut Agus, stok yang tersedia sebanyak 14.000 ton dan bakal ditambah, terutama daging kerbau, sebanyak 170.000 ton. Kemudian, minyak goreng sebanyak 8,2 juta ton. Selanjutnya, bawang bombai sebanyak 2.350 ton akan dikeluarkan dan bertambah sekitar 14.000 ton dalam waktu dekat serta bertahap hingga April 2020. pp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *