Ketua DPC AWPI Pesawaran: Segera Tindak Penambang Emas Ilegal dan Oknum Provokator

Pesawaran – Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia ( DPC AWPI ) Pesawaran sangat menyayangkan pernyataan salah satu pengelola glondongan penambang emas yang diduga memprovokasi pra wartawan, seakan akan kebal hukum terkait pekerjaan mereka yang disinyalir ilegal.

Diketahui beredar rekaman audio di group wattshap polres Pesawaran, bahwa oknum penambang emas diduga ilegal ini menantang agar para wartawan turun lapangan untuk menemuinya,.

Bahkan di nyatakan dalam rekaman tersebut, dirinya mengungkapkan jika ada beberapa kepala desa juga terlibat dalam penambangan dan pengolahan emas yang dipertanyakan izin operasionalnya.

Menurut Maung Andalas, nama yang dikenal di lapangan, atas adanya dugaan memprovokasi wartawan ini, berharap APH segera memproses para oknum yang terlibat dalam operasi diduga penambangan emas ilegal yang berada di pesawaran, sebelum terjadi gejolak yang makin panas.

Ketua DPC AWPI Pesawaran berharap, dengan adanya informasi awal ini Aparatur Penegak Hukum yang berwenang dalam bidangnya, agar dapat segera membuktikan bahwasanya tidak ada yang kebal hukum bagi para pelanggar hukum, supaya tidak beredar opini yang kurang bagus dimata masyarakat, seakan – akan ada king meker dibelakang bagi para pelanggar hukum.

Dikatakan oleh sumber , pemilik suara ialah M.khotib desa harapan jaya,
Tepatnya di arah jalan umbul balak/semanda., kecamatan kedondong, kabupaten Pesawaran.

” Saya sangat menyangkan pernyataan provokasi dari diduga penambang ilegal ini, dan agar penegak hukum juga dapat membongkar oknum kades yang dinyatakan dalam rekaman audio tersebut, juga berharap ada tindakan tegas dari APH yang berwenang agar tidak menimbulkan keresahan yang berkelanjutan, dan tidak ada dugaan ada yang membeking dibelakang kegiatan mereka yang merampok aset PAD Negara Indonesia ” pungkas ketua DPC AWPI Pesawaran.

(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *