Lebih Dekat dengan Dr dr Ma’murotus Sa’diyah MKes Direktur RSUD Jombang Tingkatkan SDM dan Sarana Prasarana

Jombang l Jejakkasus.info
Mengemban amanah sebagai pucuk pimpinan di RSUD Jombang, bukan tanggungjawab yang ringan bagi Dr dr Ma’murotus Sa’diyah MKes. Ia berkomitmen menjadikan RSUD Jombang sebagai rumah sakit kebanggaan masyarakat Jombang dan sekitarnya. Seperti apa ?

SIAPA yang tak kenal Ning Eyik, pemilik nama lengkap DR dr Ma’murotus Sa’diyah MKes. Lahir dari keluarga pesantren, sedari kecil anak kelima dari pasangan KH Mustain Romli dan Nyai Djumiatin Wahab ini sudah akrab dengan lingkungan pesantren. Pendidikan keagamaan, santri dan ngaji terus diberikan kepadanya sampai ia berhasil menuntaskan pendidikan kedokteran hingga doktoral.

Menjadi dokter memang dicita-citakannya sejak kecil. Perempuan yang lahir di Jombang, 14 Desember 1971 ini langsung menuntaskan pendidikan Kedokteran Universitas Brawijaya Malang . Otaknya yang encer dan pengetahuan wawasannya yang luas, Pengasuh Asrama Al Hambra Ponpes Darul Ulum Jombang ini pernah masuk daftar 100 tokoh alumni berprestasi Universitas Brawijaya.

Jenjang karir Ketua Yayasan Universitas Darul Ulum Jombang (2000-2010) ini diawali sebagai Kepala Puskesmas Kepulungan Pasuruan (2005-2009). Kemudian Kepala Puskesmas Gempol Pasuruan (2009-2013). Setelah itu berpindah tugas ke Jombang dan menjabat sebagai Kepala Puskesmas Mojoagung (2014 – 2019).

Pengabdian di kampung halamannya semakin terlihat manakala ia dipromosikan sebagai Kabid Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Jombang (2019-2021). Tak berselang lama, ia langsung didapuk sebagai Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD Jombang (2021 – November 2022). Setelah mengikuti proses JPTP, kini secara definitif ia menjabat sebagai Direktur RSUD Jombang.

Sebagai wanita karir, Ning Eyik memiliki waktu cukup padat. Terlebih, hingga sekarang, perempuan yang pernah menjabat Rektor Universitas Darul Ulum Jombang (2010 – 2014) ini masih tercatat sebagai dosen luar biasa pada Program Magister AKK Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Surabaya.

Organisasi kemasyarakatan juga masih bisa diikutinya secara rutin sebagai upaya berkhidmat untuk umat. Ia pernah ditunjuk sebagai Ketua Bidang Kesehatan dan sekarang Dewan Pakar PC Muslimat NU Jombang.

Berbagi ilmu dan pengalaman kesehatan tetap dicurahkan untuk masyarakat. Baik di organisasi kemasyarakatan maupun rumahnya di lingkup Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Beruntung, ibu dua anak ini mempunyai keluarga yang sangat mendukung semua aktivitasnya.

Kewajibannya sebagai istri dan ibu untuk dua anak, Putri Rizki dan Idea Qolbi, tak pernah ditinggalkan. Setiap saat, wajib meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga tercinta.

Hingga sekarang, Ning Eyik masih melanjutkan hobinya yang suka menulis. Terlebih, sang suami tercinta Binhad Nurrohmat yang juga seorang penulis dan penyair, terus mensuport hobinya. Sampai ia bisa menelurkan empat buku hasil karyanya sendiri. Selain bertutur novel, buku yang diterbitkan juga tentang puisi dan pikiran-pikiran modern tentang aliran madzhab dalam Islam.

Mulai novel Mola yang terbit 2005, antologi puisi Perempuan Indonesia (2005), Bunga Rampai dari Kiai Kampung ke NU Miring (2010) dan Bunga Rampai Nuhammadiyah Bicara Nasionalisme (2011).
Sebagai wong Jombang asli, Ning Eyik sangat memahami bagaimana karakter dan kebiasaan masyarakat Jombang. Sejumlah gebrakan untuk meningkatkan pelayanan di RSUD Jombang telah disiapkan.

”Kami ingin, RSUD Jombang lebih dicintai masyarakat. Bagaimana caranya, pertama melakukan peningkatakan SDM agar menjadi SDM yang lebih tanggap, ramah dan lebih peduli kepada pasien serta keluarga dan masyarakat,’’ ujarnya, kemarin (9/11).

Ke depan, ia akan melakukan peningkatan sarana prasanana kesehatan. Dengan begitu, RSUD Jombang akan menjadi rumah sakit rujukan beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur. ”Tentu peningkatan sarana prasanana kesehatan ini lebih canggih dan mumpuni,’’ terangnya lagi.

Lebih dari itu, upaya mewujudkan poli eksekutif dapat melayani pasien BPJS kesehatan juga akan terus diwujudkan. Selama ini, Poli eksekutif memang belum dapat melayani pasien BPJS kesehatan karena proses perizinan yang belum rampung. ”Harapan kami, pasien BPJS juga bisa mendapatkan fasilitasi layanan poli eksekutif. Dengan begitu, kami bisa memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat,’’ pungkas Ning Eyik.
(Aan jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *