Pengaruh Manajemen Untuk Kemajuan Negara

by -590 views

Oleh : Benny Hanggara, Jurusan : Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang
Jejakkasus.info | Di tengah-tengah semakin berat dan kompleks tantangan bangsa Indonesia menghadapi era global saat ini, mengedepankan pembaharuan, pemikiran-pemikiran yang inovatif dan produktif pada lembaga pemerintah baik pusat dan daerah merupakan langkah dan sikap yang tepat serta patut mendapatkan dukungan dari semua komponen masyarakat. Beberapa dekade ini telah terjadi perubahan sosial dan ekonomi yang sangat pesat sebagai akibat dari kecenrungan atau tren yang telah terjadi pada zaman modern ini. Disisi lain keperihatinan pun muncul oleh pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di Indonesia. Di Negara yang dilanda keterpurukan dalam berbagai aspek, seperti di Indonesia sekarang ini, kekurangan pangan dan bencana kelaparan serta tragedi kemanusiaan sering terjadi. Melihat fakta-fakta diatas tentang kehidupan ekonomi yang tidak berjalan dengan baik, sejauh mana pengaruh manajemen terhadap lingkungan sosial, masalah kemanusian, maupun dalam organisasi atau perusahaan. Manajemen memiliki peran yang sangat penting dalam segala dimensi kehidupan ini. Suatu negara agar dapat bertumbuh dan berkembang dalam membangun perekonomian secara ideal, haruslah memiliki manajemen yang baik. Pertnyaannya, darimana pangkal masalah mendasar ini sehingga telah bertahun-tahun tidak dapat diatasi ? hal ini membuka dua fakta sebagai berikut :
Kegiatan ekonomi hanya akan bergerak apabila ditopang oleh sektor keuangan atau perbangkan. Inilah yang menjadi sebab semua negara berjibaku membangun dan mengembangkan sektor keungan secara kuat. Perkembangan sektor pertanian dan industri di masa lalu yang cukup bagus harus diakui juga bertolak dari dukungan sektor perbangkan tersebut. Pada 2000 sektor pertanian, industri dan pertambangan masih mendapatkan porsi alokasi kredit perbankan sebesar 47,96 persen. Namun alokasi kredit pada 20l0 terhadap sektor rill tersebut anjlok menjadi tinggal 24,22 persen. Jadi, sebagian besar kredit 75,88 persen jatuh ke sektor nontradeable. Dengan deskripsi tersebut tentu kita tidak kanget apabila pertumbuhan sektor pertanian dan industri menjadi macet.
Inftrastruktur di sektor pertanian (termaksud perikanan, peternakan, kehutanan, dan perkebunan) dan industri tidak mengalami perkembangan dalam waktu yang lama. Saat ini sekitar 30-40 persen irigasi dibiarkan rusak, pelabuhan nyaris tidak bertambah, pasar sektor pertanian dibiarkan dibajak mafia distributor, balai pembibitan dan penyeluhan mati suri, industri kecil dibiarkabn bersaing buas dengan produk luar negeri, tidak ada skema pengembangan industri berbeasis pertanian, revitalisasi industri andalan yang tidak jalan, dan UMKM kian terpinggirkan. Di Jawa Timur misalnya porsi anggaran kabupaten/kota yang diberikan kepada UMKM hanya ada sekitaran 0,l-0,4 dari APBN. Hal yang sama juga terjadi pada pemerintahan pusat APBN. Akumulasi dari semua masalah ini, penanam modal lebih suka berinvestasi di sektor jasa/perdagangan daripada di sektor primer ata sekunder.

Manajemen merupakan suatu praktek yang tak jauh beda dengan praktek psikiater atauupun psikolog. Kesemuanya harus melakoni praktek sepenuh hati, tidak serampang, bertanggung jawab, dan dibarengi cahaya nurani kemanusiaan. Adapun letak perbedaannya, jika psikiater ataupun psikolog cenderung dijlankan secara afeksional-individual, maka praktek manajemen lebih bersifat rasional organisional. Jadi, praktek manajemen baru bisa dikatakan ada bila ditopang secarak kolektif dan melalui organisasi. Praktik manajemen dan organisasi merupakan “Dwi-tunggal”, ibarat dua sisi koin yang berbeda pada sebuah mata uang yang sama. Artinya, praktik manajemen hanya bisa mengejawantah melalui medium keorganisasian, belum bisa kita sebut sebagai praktik manajemen.
Di era revolusi industri pemahaman dan praktik manajemen selaku managing people masih dibingkai pemaknaan teknis. Manusia (pekerja) tak ubahnya dimaknai sebagai mesin. Praktik manajemen hanya beriorentasi untuk mendapatkan keuntungan atau profit sebesar-besarnya bagi organisasi demi kepentingan ekspansi, belum memulihkan kesejahteraan Sumber Daya Manusia (SDM). Semangat ekspansionis demi mengejar keutungan semaksimal munkin, memperhebat perasaan curiga mencurigai dan saling bersaing diantara para indusrtialis dibenua Eropa. Hal tersebut justru berakibat kontraproduktif karena pada akhirnya menjadi pemicuh perang dunia II. Dimulai dari ulag agresi militer pihak Jerman (Nazi) dan Itali (Fasis) yang berupaya mencaplok negar-negara sekitarnya, termaksud Rusia, ide ini ternyata diikuti olej Jepang yang melancarkan peperangan kolosal untuk menguasai Asia. Perang berkecambuk di Eropa, Asia, hingga Afrika. Perang Dunia II baru bisa diakhiri setelah Amerika Serikat ikut terlibat di kancah peperangan melawan pihak agresor. Nafsu industrialisasi yang berkebablasan, yang menyebabkan perang berskala dunia, pada dasarnya telah memakan banyak korban materi, dan rohani tak terhitung, sangat memilukan sekali juga memorak-porandakan kehidupan prekonomian serta rakyat Eropa dan Asia kala itu.
Disinilah ornganisasi atau perusahaan patut dimaknai sebagai suatu kesatuan sistem yang saling berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, dimana peristiwa-peristiwa eksternal akan berpengaruh menentukan proses internal. Sebagai konsekuensinya, variabel-variabel yang berkenaan dengan teknologi, besaran oranisasi, pilihan strategis, dinamika dan kompleksitas lingkungan, akan melahirkan tuntunan maupun persyaratan sendiri yang patut dipenuhi oleh setiap organisasi. Dengan demikian organisasi atau perusahaan di tantang untuk berkesanggupan memantau secara kontinum varibel-varibel yang ada pada lingkungan eksternal sembari mengoptimalkan kapasitas adaptasi internalnya. Pemahaman dan praktik manajemen altulistrik ini, belakang populer disebut sebagai manajemen berbasis pemangku kepentingan (stalkeholders). Masyarakat Barat pun segera menyadari bahwa zaman bertambah kompleks. Untuk menjaga kemajuan peradabannya, mereka harus terus-menerus berbenah diri meningkatkan dan memperluas praktik manajemen yang merambah pula dimensi kemanusiaan kelingkunga eksternal keorganisasian. Praktek manajemen harus memperhatikan persebaran manfaat dari tawaran organisasi bagi para stakeholder-nya, baik yang secara langsung ataupun tidak langsung terkait dengan aktivitas organisasi atau perusahaan.

Untuk mencapai hasil karya atau kinerja (performance) yang memadai dikemudian hari (future) para eksekutif dan manajer harus menyadari bahwa kompetisi menjerial yang tradisional sudah tidak sesuai dengan dengan keadaan kondisi di kemudian hari. Sehubung dengan intensitas dan kecenrungan dari berbagai kekuatan, perubahan, adaptasi dan transformasi organisasional perlu diperkasai atau dimulai dengan pengimplementasian dengan cepat kecenrungan tersebut harus diimbangi oleh adanya kepemimpinan eksekutif (executive leadership) yang efektif dan penuh tanggung jawab, serta mengusai manajemen dalam pertumbuhan dan pembangunan perekonomian di Indonesia. Manajmen adalah sebuah proses dalam rangka untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau perusahaan dengan cara bekerja secara bersama-sama dengan orang-orang dan sumber daya yang dimiliki oleh organisasi atau perusahan. Agar pertumbuhan dan pembangunan perekonomian indonesia dapat berjalan sesuai rencana maka harus ada yang namanya manajamen strategi. Istilah ”strategi” telah dikenal cukup lama, namun istilah manajemen strategi (strategic management), inklusif pengambilan keputusan strategi, manajemen perubahan strategis, rekayasa ulang dan benchmarking merupakan hal-hal yang relatif baru.
Manajemen strategi (strategic management) merupakan istilah baru yang khusus ditujukan untuk menggambarkan pengambilan keputusan atau dengan perkataan lain proses pengambilan keputusan. Glueck dan Jauch (l986) mengemukakan bahwa kebijakan usaha atau bisnis (business policy) secarah tradisional masih ada, namun kemudian dikaitkan dengan mata kuliah pada sekolah-sekolah bisnis (terutama Harvard Business Scool) dengan tujuan untuk mengintegrasikan pengertian strategi manajmen dengan program pendidikan dan sekolah-sekolah bisnis tersebut. Kehadiran dan peran manajemen akan memberikan pengaruh terhadap kemajuan perekonomian di Indonesia karena manajemen dapat menciptakan strategi-stragi terhadap pertumbuhan dan pembangunan prekonomian di Indonesia sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan pemerataan pendapat, memnfaatkan dan memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraan organisasi atau perusaan juga pemerintahan. Dengan demikian perkembangan manajemen dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Setelah dilakukan penelitian tentang pengaruh manajemen terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di Indonesia melalui tinjauan kepustakaan, maka disarankan manajemen dapat menjadi alternatif dalam penyusunan ataupun strukruk keorganisasian atau perusahaan dalam negri sehingga krisis ekonomi negara dapat terselasaikan dan diharapkan dapat mendukung kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *