Penyusun | Supriyanto (ilyas) Ketua Umum Lembaga Suwadaya Masyarakat (LSM) Generasi Muda Indonesia Cerdas Anti Korupsi (GMICAK)
Pernyataan bahwa “pitutur Jawa itu nyoto” (petuah Jawa itu nyata/benar adanya) sering kali merujuk pada keyakinan bahwa ajaran dan nasihat tradisional Jawa mengandung kebenaran pragmatis dan relevan yang teruji oleh waktu dalam kehidupan sehari-hari
“Nyoto” di sini dapat diartikan bahwa nilai-nilai tersebut, seperti konsep eling lan waspada (ingat dan waspada) atau alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal berhasil), benar-benar memberikan panduan yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam realitas kehidupan nyata, bukan sekadar teori kosong .
Beberapa contoh pitutur Jawa antara lain “urip iku urup” (hidup itu menyala), “becik ketitik ala ketara” (yang baik akan terlihat, yang buruk akan ketahuan), “sapa nandur bakal ngundhuh” (siapa menanam akan menuai), “aja dumeh” (jangan mentang-mentang), dan “eling lan waspada” (ingat dan waspada). Pitutur ini mengajarkan nilai-nilai seperti memberi manfaat, berbuat baik, bekerja keras, rendah hati, dan tetap waspada.
Banyak orang Jawa yang masih berpegang teguh pada prinsip-prinsip ini karena merasa mendapatkan manfaat nyata dalam membimbing sikap, etika, dan cara pandang mereka dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan alam
Pitutur Jowo :
“Ojo wedi dirasani” artinya “jangan takut diomongkan/digosipkan,” dan “selagi awakmu tumindak becik” berarti “selama kamu berbuat baik”. Jangan takut dihakimi atau diomongkan orang lain selama kamu berbuat baik dan tidak merepotkan orang lain”. Ini adalah nasihat untuk tetap tenang saat orang lain bergosip atau menjelek-jelekkan karena selama tindakanmu benar dan tidak merugikan siapa pun, kamu tidak perlu khawatir.
Beberapa contoh pitutur Jawa antara lain “Urip iku urup” (hidup itu menyala), “Becik ketitik, ala ketara” (perbuatan baik dan buruk akan terlihat), “Aja dumeh” (jangan mentang-mentang), dan “Memayu hayuning bawana” (memperindah dunia). Pitutur ini berisi nasihat-nasihat bijak tentang kehidupan, kesopanan, dan tanggung jawab.
Contoh pitutur Jawa dan maknanya:
Urip iku urup: Nasihat agar hidup selalu memberikan manfaat bagi orang lain.
Becik ketitik, ala ketara: Kebaikan dan keburukan pada akhirnya akan terlihat dengan sendirinya.
Aja dumeh: Jangan sombong atau merendahkan orang lain hanya karena memiliki kelebihan atau kekuasaan.
Memayu hayuning bawana: Mengajak untuk berbuat baik agar dunia menjadi lebih indah dan aman.
Eling lan waspada: Selalu ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi.
Gusti ora sare: Setiap perbuatan baik maupun buruk akan mendapat balasan yang setimpal.
Sapa nandur bakal ngundhuh: Siapa yang menanam, dialah yang akan menuai hasilnya.
Alon-alon waton kelakon: Jalani sesuatu dengan perlahan namun pasti akan selesai.
Mikul dhuwur mendhem jero: Menjunjung tinggi harkat dan martabat orang tua.
Wani ngalah, luhur wekasane: Berani mengalah untuk kepentingan yang lebih besar demi kebaikan bersama.
“Aja adigang, adigung, adiguna” (jangan sombong dengan kekuatan, kedudukan, dan kepandaian). Nasihat ini bertujuan untuk membimbing manusia agar memiliki sikap hidup yang luhur dan menjaga keseimbangan dunia.
Gusti Allah Mboten Sare.” Arti : Tuhan Allah tidak tidur.
Makna: Ini adalah ungkapan yang sangat kuat, mengingatkan bahwa segala perbuatan manusia, baik yang terlihat maupun tersembunyi, selalu dalam pengawasan Tuhan. Hal ini mendorong seseorang untuk selalu berbuat kebajikan dan merasa diawasi oleh Yang Maha Kuasa
