Polwan Polres Sumedang, Pulihkan Trauma Anak-Anak

oleh -17 views

POLRES SUMEDANG, Jejakkasus.info –  Sejumlah Polwan Polres Sumedang hingga saat ini, terus berupaya memulihkan rasa trauma bagi anak yang turut terdampak longsor di Kampung Bojongkondang, RT 3/10, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Provinsi Jawa Barat.

Pasalnya, pascakejadian longsor yang menewaskan sebanyak 40 orang itu,  membuat anak-anak trauma, bahkan ada beberapa anak yang sempat murung dan tidak ceria akibat kejadian longsor tersebut.

Polwan Polres Sumedang, Iptu Memey Andriani, Jumat (22/1/2021) mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih terus memberikan trauma healing bagi anak-anak yang terdampak longsor itu, terutama yang berada di Posko Pengungsian.”Kami melakukan giat pendampingan trauma healing itu di setiap Posko. Disini ada 6 Posko, jadi anggota kami dibagi-bagi ke Posko yang ada anak kecil,” ujarnya saat ditemui di Posko Pengungsian SBG.

Dalam memulihkan rasa trauma bagi anak-anak itu, Polwan Polres Sumedang, setiap pagi mengajak bermain sambil memberikan makanan, supaya mereka bisa kembali ceria seperti biasanya.”Kalau awal-awal banyak anak-anak yang murung, jadi tatapannya kosong, banyak melamun,” kata Memey.

Namun setelah diberikan pendampingan, kata Memey, kondisi mereka sudah kembali ceria dan terlihat bahagia. Kendati demikian, upaya pendampingan tersebut bakal terus dilakukan.

Sebab, kata Memey, hal tersebut sudah sesuai dengan perintah dari Kapolres Sumedang, AKBP Eko Prasetyo Robbyanto yang memerintahkan, agar rasa trauma anak-anak bisa kembali pulih.”Alhamdulillah, setiap pagi kita bisa siapkan snack buat anak-anak maupun balita, sambil diajak main di tempat yang teduh, misalnya di bawah pohon rindang,” ucapnya.

Memey mengatakan, upaya pendampingan tersebut, bakal terus dilakukan hingga rasa trauma anak-anak yang berada di Posko Pengungsian bisa kembali pulih.

Berdasarkan data terakhir yang diterima Jejakkasus.info sedikitnya ada 106 anak-anak yang tercatat ikut mengungsi dan harus mendapat pendampingan melalui trauma healing. (Rinrin Herlina/Novi Setiani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *