Jombang – Minggu (27/07/2025) Ratusan warga desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tumpah ruah ke jalan dalam rangka memeriahkan pawai budaya. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80.
Peserta pawai diberangkatkan dengan ditandai pemukulan Ging oleh kepala desa Dukuhklopo, start di dusun Penjalinan itu menampilkan berbagai kreativitas warga dari masing-masing RT. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah kendaraan hias dari RT 06 yang membawa tema “Guyup Rukun Warga”.
Mobil dihias penuh warna dengan nuansa budaya tradisional Jawa – beratapkan ilalang, dipenuhi dekorasi janur, pisang, bunga-bunga, dan ornamen merah putih. Tidak hanya itu, di atas kendaraan juga tampak anak-anak mengenakan busana adat sambil melambaikan tangan ke arah warga yang menyambut meriah di sisi jalan.
Antusiasme warga terlihat sangat tinggi. Sejak pukul 15.00 WIB, masyarakat mulai memadati rute pawai. Suara sorak sorai, musik tradisional dan iringan yel-yel kebersamaan mengiringi jalannya pawai yang berangkat dari titik kumpul di lapangan Penjalinan.
Menurut Sujatmiko, Ketua RT 06 yang ditemui di sela acara, kegiatan ini telah dipersiapkan selama dua pekan oleh seluruh warga.
“Kami ingin menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya tentang bendera dan lomba, tapi juga tentang mempererat persatuan dan gotong royong antarwarga,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Dukuh Klopo, Bapak Sutrisno, mengapresiasi partisipasi aktif warga dalam memeriahkan pawai budaya ini. “Ini adalah bentuk nyata dari semangat guyub rukun yang menjadi ciri khas masyarakat Jombang dan kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda tahunan dan semakin meriah ke depannya,” ungkapnya.
Acara ini juga didukung oleh karang taruna, ibu-ibu PKK, dan tokoh masyarakat setempat. Keamanan selama acara berlangsung dijaga oleh panitia dengan bantuan pemuda desa. Pawai berlangsung aman dan tertib hingga selesai sekitar pukul 17.00 WIB.
Selain menjadi ajang hiburan, kegiatan ini juga diharapkan menjadi media pelestarian budaya lokal serta meningkatkan kebersamaan antarwarga di tengah kehidupan modern yang serba cepat. (Mas/Bud)
