Sidang Kode Etik Profesi Propam Polda Jateng Terhadap AKBP. ST Masih Terus Berlanjut

 

Jejakkasus.info|JATENG & DIY

SEMARANG- Komisi Kode Etik Profesi Polri Polda Jateng, kembali mengelar sidang lanjutan Kode Etik Pofesi untuk yang ketiga kalinya terhadap Kabagwasidik Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng AKBP ST bertempat diruang Sidang Kode Etik Profesi lantai 2 Polda Jateng jalan Pahlawan no 1 Kota Semarang, Rabu (29/12/2021)

Sidang kali ini menghadirkan kembali H.Utomo sebagai pelapor. Sidang dimulai pukul 09.45 Wib, H.Utomo sendiri dalam sidang hari ini di dampingi kuasa hukumnya Nikkri Ardiansyah,SH.

Kepada awak media disela istirahat sidang lanjutan ketiga H.Utomo mengatakan “dirinya pengen perkaranya lurus namun dalam sidang tidak diakui kalau ada gratifikasi tetapi saksi ada saya dan istri saya.

“Dalam sidang kali ini ada saksi saksi dari penyidik Polda Jateng. Dalam sidang kode etik profesi tadi ada empat saksi yakni saya (H.Utomo), penyidik Polres pati satu saksi dan dua penyidik dari Polda Jateng, ucapnya

Lebih lanjut H.Utomo menjelaskan “dalam memberikan kesaksian mengenai komplain saya atas ketidak profesionalan KabagWasidik AKBP ST saat memimpin gelar perkara kasus saya.
Kesaksian saya dalam perkara ini sudah jelas, perkara ini kan dari awalnya masalah utang piutang. Kesepakatan dengan saudari Penik sudah saya bayar lunas semuanya, jaminan saya malah tidak dikembalikan lha kok saya malah dilaporkan terkait pemalsuan dokumen padahal sudah jelas itu photo copy,” papar Utomo.

Terkait masalah uang yang diberikan itu, karena kita baik sama kabagwasidik sebagai temen saya saat itu. Uang itu ibarat ucapan terima kasih. Karena teman baik, saya minta diluruskan makanya kalau kasus itu benar di benarkan kalau salah ya disalahkan.

Dalam pemberian uang yang nominalnya uang Rp.3 juta sebanyak dua kali dan Rp.2 juta itu semua untuk membantu pondok ,karena AKBP ST juga mempunyai pekerjaan membantu terkait pondok,” terangnya.

H.Utomo kembali menegaskan terkait uang untuk pembebasan craine kita transfer tapi kalau untuk yang sebelum gelar perkara kita berikan secara chash untuk membantu pondok tadi Rp 3 juta sebanyak dua kali berikutnya Rp.2 juta.

Menurut H.Utomo karena dekat dengan AKBP. ST sekitar tahun 2015 bahkan sering kerumahnya, sebelum kasus ini saya udah kenal baik dengan dia.

Lebih lanjut H.Utomo berharap agar putusan nanti bisa maksimal seadil- adilnya. Polri harus bisa mengayomi, melindungi masyarakat, bukan mencari cari kesalahan masyarakat, nantinya masyarakat yang lainnya bagaimna? ujar Utomo dengan nada tanya.

Dalam sidang kode etik hari ini dipimpin oleh Ketua Komisi Kombes Pol. Bambang Hidayat ada hakimnya satu, wakil ketua satu, anggota empat orang,” tutupnya.

(Aset-JK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *