Skandal Korupsi, Respon Oknum Kades Datar Lebuay Percuma Ngomong Sama Orang Goblok 

Tanggamus,Jejakkasus.info –

Masyarakat Desa Datar Lebuay Kecamatan Air Naningan dihebohkan adanya dugaan Malpraktek Korupsi Anggaran Dana Desa (ADD) tahun anggaran 2021 oleh Oknum Kades setempat berinisial (ST). Hal ini terungkap usai awak media menelusuri lokasi setempat serta menginvestigasi beberapa Narasumber terkait penyalahgunaan ADD.
Namun, saat dikonfirmasi awak media terkait temuan hasil wawancara dengan Narasumber, Oknum Kades yang saat itu tidak merespon melalui komunikasi via WhatsApp serta telepon seluler dengan keadaan Off Number, dan dilanjutkan menghubungi via WhatsApp Ibu atau istri Kades yang diduga Non responsif dengan membalas “Percuma Ngomong Sama Orang Goblok,”.

Sebelumnya, hasil dari konfirmasi awak media dengan beberapa Narasumber, salah satunya yaitu Yusuf Ketua BHP Datar Lebuay menyampaikan terkait penyalahgunaan Proyek pemindahan Batu. Menurut nya, informasi tersebut dibenarkan bahwa batu yang sebelumnya sudah ada di bahu jalan dipindahkan ke Dusun Balai Rejo.

“Batu itu memang sudah ada pada saat mantan Kepala Desa Joni Ansonet yang itu dialihkan ke Balai Rejo. Kalau untuk pembangunan Onderlah saya tidak tahu, Cuma memang pada saat itu ada kekurangan beberapa meter dari pembangunan Onderlah dijalan Balai Rejo itu, tetapi sudah kami selesaikan dan direalisasikan setelah kami melakukan monitoring dengan pihak Kecamatan dan untuk kekurangannya saya tidak tahu ngambil batu nya dari mana atau memang ada Material untuk itu, dan pengambilan meterial batu itu yang saya tahu kalau tidak salah di jalan usaha Tani. Jadi ada jalan arah ke Lapangan yang sudah diajukan ke jalan usaha tani oleh Kades, disitu jalannya becek, nah disitulah masyarakat mulai bergotong royong sebagai jalan pintas atau alternatif karena jalan Onderlah baru dibangun dan tidak boleh dilintasi maka jalan alternatif dialihkan ke jalan usaha tani, dan sementara itu kami diperintahkan oleh kades agar memindahkan batu Onderlah ke Jalan Usaha tani untuk menutupi becek tadi, dan itu katanya akan diganti,”terang Yusuf, Sabtu (5/11/2022).

Kemudian ditempat yang berbeda, Ersan selaku RT Limbangan Baru menjelaskan terkait batu yang dipindahkan, masyarakat setempat tidak terima atau sempat menolak atas pemindahan batu tersebut.

“Kami tidak terima, seharusnya jalan yang rusak itu diperbaiki dan ditambal sulam bukan dibongkar biar jalannya bagus, inimah tidak karuan ada beberapa mobil kita tidak tahu, tapi kita pernah melihat sendiri satu mobil. Dan banyak saksi warga yang kecewa atas tindakan itu karena tanpa ada musyawarah,”ujarnya.

Selanjutnya, menyisir kepada Rian Hartono selaku Supir Oknum Kades, menurutnya kejadian itu dirinya diperintahkan oleh Kades agar mengambil batu yang sudah lepas di sejumlah lokasi bahu jalan dengan alasan dari pada tidak berguna agar bisa dimanfaatkan dengan cara dipindahkan ke bangunan proyek yang sedang berjalan.

“Waktu itu jalan yang masih dibangun kurang dari 15 Meter, dan diperkirakan batu itu ada 13 mobil dari pinggir jalan yang sudah lepas, jadi ada 4 mobil yang dikirim ke jalan semendoan, dan ada beberapa titik batu yang dibongkar itu di dusun Limbangan Baru di tanjakan surijah, rombongan lima setelah itu tanjakan rombongan tiga,”jelasnya.

Pada saat itu, sebelumnya Rian sangat berat hati akan melakukan pekerjaan tersebut, namun karena Oknum Kades sempat marah dengan dirinya yang harus melakukan tindakan tersebut.

“Saat itu pak Kades dengan marah tidak mau tau, pada waktu itu sempat mengucap sambil menepuk dada bahwa Saya ini Lurah!, apabila terjadi hal dikemudian hari saya yang akan bertanggung jawab (tiru suara Kakon), mangkanya kami mau ngambil batu itu,”jelas Rian.

Selanjutnya, Aryani selaku Kaur Perencanaan Desa Datar Lebuay menerangkan bahwa mulanya dirinya tidak mengetahui akan kejadian pemindahan batu tersebut dengan alasan pada saat dirinya menjadi PPTK sudah mengerjakan sesuai anggaran dilapangan.

“Saya baru dapat kabar dari media soal pencurian batu, bahwa batu tersebut memang berasal dari jaman pak Joni Ansonet, tapi karena memang keadaan batu itu sudah bubar kami tidak tahu kalau Kades memanfaatkan batu tersebut,”katanya.

Dalam hal ini, menurut Aryani atas kejadian tersebut tidak diperbolehkan dikarenakan setiap pembangunan pasti sudah memiliki anggaran masing masing.
“Sedangkan yang sudah selesai itu di SPJ kan dan tidak boleh di utak Atik,”tukasnya.

Tidak hanya persoalan pemindahan batu, Awak media menelusuri dugaan Malpraktek ADD soal Ambulance. Pada kesempatan itu, Sukeni selaku Supir Ambulance menerangkan bahwa dirinya telah banyak mengeluarkan uang pribadi hingga Jutaan Rupiah terkait service Mobil Ambulance milik desa.

“Sudah 2 tahun jadi supir desa, dan berkisar kurang lebih 4 Juta Rupiah uang pribadi yang sudah terpakai untuk service mobil. Dan kendala mobil itu banyak salah satunya Plat Mobil yang sudah mati pajak, karena kita agak mikir kalau mau berangkat ke wilayah manapun,”singkatnya.

Selanjutnya, menyisir pada hal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Novalia Direktur BUMDes menyatakan bahwa dirinya tidak pernah merasa menerima bantuan apapun baik dari anggaran ataupun yang lainnya khususnya dari pihak Pemerintah Desa setempat.
“Sampai saat ini, BUMDes belum pernah menerima bantuan dari bentuk Apapun,”tukasnya.

Atas peristiwa dugaan tersebut, hal ini perlu juga diterangkan oleh Pihak yang berwajib yaitu Inspektorat Tanggamus, Kejaksaan Negeri Tanggamus dan Polres Tanggamus.
Dan dalam hal ini, Pihak berwajib belum dikonfirmasi, Pungkasnya.

(Bambang/Sugeng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *