Ternak Belut “Gagal”, Anggaran Ketahanan Pangan Masria Baru Dipertanyakan

Kaur l Jejakkasus info – Pangan merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi bagi setiap manusia. Untuk meningkatkan penguatan pangan tersebut berbagai kebijakaanpun telah dilakukan oleh Pemerintah Pusat diantaranya melalui program Dana Desa.

Desa diwajibkan menganggarkan 20% dari pagu anggaran Dana Desa untuk kegiatan ketahanan pangan dengan prioritas pemanfaatan potensi yang ada didesa dengan harapan terpenuhinya kebutuhan pangan secara mandiri dan berkelanjutan ditingkat desa.

Namun sangat disayangkan niat baik pemerintah tersebut seringkali dimanfaatkan oleh para oknum kades untuk meraup keuntungan dengan mengesampingkan tujuan akhir dari program pemerintah tersebut.

Seperti halnya kegiatan ketahanan pangan Dana Desa Masria Baru Kecamatan Semidang Gumay Kabupaten Kaur yang bergerak disektor ternak budi daya belut dalam drum, namun program yang dianggap dapat menjadi sumber pendapatan warga tersebut sudah gagal sebelum datang masa panen.

Menurut warga setempat Ug kepada Jejakkasus.info (29/09/22) mengatakan bahwa gagalnya budidaya belut didesanya disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang tata cara budi daya belut sehingga banyak yang gagal.

Mestinya program ketahanan pangan harus disesuaikan dengan potensi kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat desa atau harus diberi pelatihan terlebih dahulu tentang bagaimana tata cara ternak belut agar program ketahanan pangan tidak sia sia.

Selain itu pengadaan bibit harus jelas dan berpa kebutuhan pakannya , ” waktu penyerahan bibit dari desa ke warga kondisi bibit memang sudah ada yang mati ditambah lagi ketersedian pakannya yang sangat minim, sehingga rata rata ternak belutnya menjadi gagal “, ucapnya

Adapun bantuan yang diserahkan oleh Pemerinthan Desa yaitu bibit belut 2 Kg, pakan satu kilo dan drum palstik satu buah. Untuk jumlah rumah yang mendapat bantuan kurang lebih 40 buah rumah. jelasnya.

Saat ditanya soal harga belut perkilogramnya dan asal bibit belut tersebut, dirinya mengaku tidak mengetahui, ” saya tidak tahu kalau soal harganya yang jelas ukuran bibitnya masih kecil sebesar pangkal lidi”, ungkapnya.

Sementara Kepala Desa Marsia Baru Herdianto, saat dikonfirmasi via wahtSappnya (30/09/22) menegaskan bahwa program ketahanan pangan desanya, bukan hanya pengadaan benih belut, ” untuk diketahui bahwa ketahanan pangan
Desa Marsia Baru bukan hanya belut namun ada juga pembelian hantraktor dan triser peruntuk padi sebanyak 2 unit”. Tulisnya dalam pesan whatsAppnya.

Dirinya menunding jika informasi yang disampaikan kepada awak media tersebut sengaja dibuat dari warga yang tidak senang dengan kepemerintahanya, ungkapnya. (Iwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *