Tokoh FPB Mengeluhkan Minimnya Kontribusi Wisata Pantai Rajekwesi Untuk Desa Sarongan.

by -719 views

Banyuwangi | www.jejakkasus.info – Pantai wisata Rajek wesi yang terletak di Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran menjadi destinasi pantai wisata kedua setelah Pulau merah. Pada hari libur pengunjungnya membludak, dengan tiket masuk yang lumayan besar yaitu untuk pengunjung Rp 7500 (tujuh ribu limaratus rupiah) per orang dan Rp 2000 (dua ribu rupiah) untuk kendaraan roda 2, Rp 10.000 (sepuluh ribu rupiah)untuk kendaraan roda 4,bisa di perkirakan pendapatan dari hasil penjualan tiket pada hari hari libur seperti sekarang ini mencapai puluhan juta rupiah.

Masalah timbul ketika wisata yang masuk dalam kawasan Taman Nasional meru betiri ini selama ini bisa di katakan belum ada kontribusi yang masuk untuk Pemerintahan Desa. Hal ini di perkuat dengan pernyataan Kades Sarongan Gunoto saat di konfirmasi beliau mengatakan “Kalau dari wisata selama yang saya tahu kontribusinya sangat minim, bahkan bisa di katakan belum ada. Padahal akses jalan ke wisata tersebut memakai jalan desa juga” papar beliau.

Salah satu oknum mantan pegawai Taman Nasional Meru betiri yang waktu itu di temui dan di tanya terkait kontribusi wisata, dalam penjelasanya beliau menyampaikan “Wisata itu kan masuk wilayah Taman Nasional, jadi tidak ada urusanya dengan Pemerintahan Desa Sarongan, soalnya semua hasil penjualan tiket masuk wisata itu setahu saya langsung di kirim ke Kantor Pusat Taman Nasional Meru betiri yang ada di Jember. Mestinya kalau Kabupaten Banyuwangi menginginkan kontribusi ya harus Bupatinya yang kerjasama dengan Balai Taman Nasional Jember” jelasnya.

Sementara itu tokoh muda FPB Wagiyono menyayangkan minimnya kontribusi wisata terhadap Pemerintahan Desa “Memang benar itu masuk wilayah Taman Nasional, yang notabene bukan urusan Pemda Banyuwangi, namun kalau masyarakat marah dan memblokir jalan, mereka bisa apa?sedang pemakai jalan terbanyak adalah wisatawan, siapa yang di untungkan?kalau jalan rusak mereka tidak mau tahu, ini namanya sak karepe dw. Melihat hasil begitu besar dari penjualan tiket, harusnya ada kontribusi nyata terhadap Desa Sarongan di mana wisata tersebut berada, minimal mereka harus berkontribusi terhadap perbaikan akses jalan yang menuju wisata. Selama ini Pemerintah Desa Sarongan yang selalu mengadakan perbaikan terhadap akses jalan ke wisata, bahkan sampai ada warga masyarakat biasa yang rela membeli grasak dengan uangnya sendiri untuk memperbaiki jalan, terus kalau pihak Taman Nasional sebagai pengelola wisata tidak juga mau tahu dengan situasi seperti ini, ya jangan di salahkan kalau suatu saat jalan akses menuju wisata di blokir oleh warga, karena di anggap tidak ada manfaatnya sama sekali untuk masyarakat” papar Wagiyono.

Permasalahan wisata ini masih terus menjadi polemik yang sampai saat ini belum ada titik penyelesainya, masyarakat berharap pihak Taman Nasional Meru betiri berperan serta secara nyata terhadap pembangunan Desa Sarongan.(Tim JK Banyuwangi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *