Tulungagung Menggelar Program Vaksinasi Covid-19 untuk Anak 

Tulungagung l Jejakkasus.info – Pemerintah Kabupaten Tulungagung akhirnya menggelar program vaksinasi COVID-19 untuk anak usia 6-11 tahun, yang “kick off”-nya dimulai sejak Selasa (4/1/2022) bertempat di SDN 4 Kampungdalem.

Kegiatan ini bisa digelar seiring tercapainya target minimal vaksinasi untuk masyarakat umum sebesar 70 persen dari total saran, serta 60 persen untuk kelompok lansia di Kota Marmer per akhir Desember 2021 lalu

Ada sedikitnya 89.276 siswa SD/MI yang tersebar di 271 desa/kelurahan 19 kecamatan menjadi sasaran vaksinasi yang ditargetkan tuntas dalam tempo 10 hari sejak “kick off” dilakukan.

Ada yang digelar di sekolah, pondok pesantren, di puskesmas, balai desa/kelurahan dan ada pula yang mengambil tempat fasilitas umum lain yang dianggap representatif.

Melihat banyaknya siswa yang ikut program, vaksinasi untuk anak kelompok usia 6-11 tahun ini rupanya mendapat sambutan antusias masyarakat

Mayoritas siswa bahkan dengan senang hati mengikuti vaksinasi. Kendati masih ada beberapa yang takut, menangis histeris saat disuntik dan sebagainya.

Namun secara umum, boleh dibilang orang tua / wali siswa mendukung.

Fakta ini tentu menggembirakan. Terutama dalam upaya bersama mencegah risiko penularan COVID-19 ke anak, memutus rantai penularan wabah Corona dan memperluas “benteng kekebalan kelompok” hingga kelompok usia 6-11 tahun.

Tapi apakah itu berarti setiap anak pada kelompok usia itu bisa/boleh serta-merta ikut vaksinasi? Jawabnya tentu tidak. Ada beberapa kondisi atau prasyarat tertentu dimana anak boleh divaksin atau tidak/belum boleh divaksin.

“Pada prinsipnya sama seperti orang dewasa. Anak harus dalam kondisi fit dan sehat saat menerima vaksin,” kata Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Zuhrotul Aini, Sp.A.

Dijelaskan Aini, kondisi ini diperlukan terutama untuk meminimalisir kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) berat. Meskipun, sampai saat ini belum ditemukan kasus KIPI berat pada pelaksanaan vaksin anak, antisipasi atau pencegahan wajib dilakukan.

“Jika anak sedang sakit atau dalam masa perawatan, sebaiknya untuk konsultasi dengan dokter yang merawat. Termasuk jika anak memiliki komorbid seperti penyakit asma, dan sakit lain,” paparnya.

Menurut penjelasan Aini, kondisi ini diperlukan terutama untuk meminimalisir kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) berat. Meskipun, sampai saat ini belum ditemukan kasus KIPI berat pada pelaksanaan vaksin anak.

“Jika anak sedang sakit atau dalam masa perawatan, sebaiknya untuk konsultasi dengan dokter yang merawat. Termasuk jika anak memiliki komorbid seperti penyakit asma, dan sakit lain,” paparnya.(gandhi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *