Warga Desa Pegagan Lor Pertanyakan Laporan Aduan ke P4TKI Cirebon

by Share Tweet

Jejakkasus.info l Cirebon – Pasangan suami istri  Warnata (48) Tawi (50) didampingi Pemerintah Desa (Pemdes) Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Juni 2020 lalu, mengadu ke Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Cirebon, terkait hilang kontak serta keluarga meminta agar anaknya Patona (27) agar segera dapat dipulangkan ke Tanah Air. Karena sudah belasan tahun bekerja, namun tidak juga bisa dipulangkan ke kampung halamannya. Diduga tidak diperbolehkan oleh majikannya dengan alasan yang tidak jelas.

Menurut Warnata, Rabu (26/8/2020) siang di Cirebon, anaknya Patona Pekerja Migran Indonesia (PMI), diketahui  berangkat bekerja ke luar negeri sejak Tahun 2009. Namun sejak tahun 2019, hingga kini Patona hilang kontak dengan pihak keluarga. Sehingga akhirnya pihak keluarga khawatir dan bingung.”Patona waktu tahun 2019 kemarin berjanji akan segera pulang ke tanah air, namun hingga kini Patona belum juga dapat dipulangkan,” ujarnya.

Dijelaskan Warnata, tujuan kami kembali mendatangi kantor Pos P4TKI Cirebon ini, kami hanya menanyakan kabar atau informasi terkait laporan aduan kami yang pada waktu bulan Juni 2020 lalu. Intinya kami hanya meminta kejelasan tentang laporan aduan kami, dan menanyakan sejauh mana dari pihak P4TKI Cirebon dalam membantu masyarakat, terkait aduan tentang PMI bermasalah.

Alhamdulillah ucap Wartana, setelah kami datang kembali ke Pos P4TKI Cirebon, akhirnya keluarga kami tidak tanda tanya besar, karena setelah sampai di kantor itu, kami disambut dengan ramah dan baik serta laporan aduan sedang dalam proses untuk terus ditindak lanjuti, hingga dapat memulangkan Patona.”Semoga apa yang diucapkan oleh para staff karyawan P4TKI Cirebon, menjadi kenyataan untuk dapat memulangkan anak kami yang kini masih di negara Jordania,” tukasnya.

Sementara itu, Staf Crisis Center P4TKI Cirebon Agus Gustapul Supyan, SH mengatakan, karena masih masa pandemi Covid-19, khususnya di wilayah Negara Timur Tengah, untuk informasinya sudah kami sampaikan ke pusat, beserta bukti dokumen dari bulan Juni 2020. Jadi kami tinggal menunggu informasi selanjutnya.”Untuk itu kami juga perlu diingatkan kembali, terkait hal ini, sehingga kami bisa mengingat dan menginformasikan perkembanganya kepada pihak keluarga,” ucapnya.

Dinyatakan Agus, kami masih terkendala dengan kelengkapan dokumen. Jadi kalau berbicara permasalahan, berarti berbicara masalah hukum. Ya tentu hal ini tidak bisa serampangan, karena tiap orang memiliki konditenya atau memiliki harga dirinya masing-masing. Disaat kita menuduh seseorang tidak ada bukti, malah hal ini menjadi susah. Seperti halnya pengaduan dari keluarga Patona, karena menurut informasi pihak keluarga, Patona hanya diberangkatkan melalui PT yang tidak jelas nama lengkap PT nya .Hanya disebutkan nama depanya saja, karena itulah akhirnya kami kebingungan untuk melacak keberadaan Patona yang kini masih berada di negara Jordania Timur Tengah.

Kalau berbicara dari awal lajut Agus, nama PT. Graha itu yang mana?. Sedangkan nama-nama PT  itu banyak, jadi harus jelas nama PT waktu Patona dulu diberangkatkan. Hal inilah yang menjadi kesulitan kami untuk melacak keberadaan Patona, walaupun ada nomor kontak majikannya. Tapi terlepas dari itu semua, selama memang pengaduan itu kita bisa lakukan upaya, tentu kami akan terus upayakan semaksimal yang kami bisa seperti, contohnya kemarin keluarga Patona melaporkan aduan dengan data dukumen yang minim, tapi kita tetap teruskan ke pusat, walaupun dari pusat perwakilan di sana sebetulnya minta dokumen lengkap atau sebagai pendukung. Terlepas dari itu karena kondisi saat seperti ini sedang masa pandemi Covid-19. Jadi terkendala di masa pandemi yang saat ini belum berakhir. Hampir semua kantor di sana masih belum stabil, atau normal kembali.”Mudah-mudahan dalam waktu dekat, perwakilan pusat bisa informasikan dan ada titik terang. Dengan petunjuk tertulisnya nomor kontak majikanya di sana. Sehingga tim pusat bisa akan terus melacaknya,” tuturnya.

Menurut Agus, biasanya setiap ada sambungan nomor telpon dari Indonesia itu pasti majikan merijeknya. Maka dari itu kami koordinasi sama pihak perwakilan di Negara Jordania. Dengan data dokumen yang minim, kantor perwakilan punya cara yang lain, karena mereka tahu dan biasanya yang bermain dengan pekerja dari kita ezensi dari mana saja dia tahu, jadi kita akan melacaknya terus sampai menemukan keberadaan Patona. Walaupun tentunya dilakukan dengan ke hati-hatian. Karena laporan aduan ini, kendalanya ada kekurangan dokumen, terkecuali kami punya PK jelas bekerja dirumahnya si A, kami bisa langsung mendatangi rumahnya si A. Itu juga seumpama data atau dokumenya komplit. Kalau tidak ada kontrak kerja dan dokumen lainnya tidak ada, maka kami juga cukup kebingungan untuk melacaknya.”Meski begitu pihak perwakilan P4TKI Cirebon  akan berusaha melacaknya secara informal, melalui Kantor Perwakilan Pusat di sana,” ungkapnya.

Agus menegaskan, Patona memang sudah selayaknya dipulangkan, karena di sana ia sudah belasan tahun, kendati waktunya bukan waktu yang normal.”Normalnya biasanya maksimal 3 tahun bekerja, ini malah belasan tahun di Negara Timur Tengah, jadi ini sangat tidak normal,” tegasnya. (Caswila/Sadi)